Momen Piala Presiden yang Menimbulkan Polemik

Momen Piala Presiden yang Menimbulkan Polemik

Onlinecelebrexnoprescription.net – Piala Presiden memang sebatas arena pemanasan sebelum roda pertandingan sah berputar-putar, tapi kegemerlapan, kejayaan, euforia, serta keuntungan yang di tawarkan menggerus esensi dari kompetisi pramusim itu.

Meskipun begitu, masalah ada dalam rencana Piala Presiden 2019. Pada edisi ke empat ini, PSSI dibikin pening karena agenda padat club yang masih tetap bermain di Piala Indonesia. Lantas, Persija Jakarta serta PSM Makassar harus bertanding di kwalifikasi Liga Champions Asia dan AFC Cup.

Batu penyandung lainnya Piala Presiden tahun ini ialah agenda Penentuan Presiden (Pemilihan presiden) pada April yang akan datang. Menurut salah satunya anggota Komite Eksekutif (Exco) PSSI, Gusti Randa, federasi sudah sempat memperhitungkan untuk tidak mengadakan Piala Presiden. Tujuaannya supaya kompetisi itu tidak tersentuh unsur politis.

“Untuk Piala Presiden, kami masih tetap membahas dahulu sebab umumnya Piala Presiden ini ditargetkan untuk isi pramusim sebelum mulainya liga. Yang namanya Piala Presiden janganlah pun kami ini terkena peluit (ditegur) sama KPU semua jenis sebab tagline-nya (nama pertandingan) Piala Presiden,” kata Gusti sekian waktu yang lalu.

Satu per satu pertimbangan PSSI berguguran. Federasi masih akan mengadakan Piala Presiden serta ‘mengobarkan’ Piala Indonesia yang telah bergulir pada akhir tahun kemarin. Ya, set 16 besar Piala Indonesia akan tergeser serta berjalan pada pertengahan tahun atau waktu Liga 1 2019 mulai. Dalam kata lainnya, Piala Indonesia akan molor.

Ketetapan PSSI yang termasuk memaksakan mencuatkan wawasan anyar jika Piala Presiden 2019 terkontaminasi kepetingan politis, walau federasi sudah menjelaskan jika kemauan sponsor supaya kompetisi diselenggarakan tiap-tiap musim jadi aspek pemicu.

Pengamat hukum sepak bola, Eko Noer Kristiyanto, miliki pandangan sendiri. Menurut dia, Piala Presiden edisi kesempatan ini tidak terlepas dari agenda politik. Walau demikian, Eko malas mendeskreditkan satu pihak. Sebab, lanjut Eko, yang pantas disalahkan ialah PSSI.

“Ini ‘kan Politik, semua jenis (langkah) boleh-boleh saja. Tetapi, ini batasannya permasalahan norma serta kepribadian. Jadi, meskipun tidak melanggar hukum, tidak melanggar ketentuan, tapi ‘kan kita ketahui ‘kok, momentumnya gini baget.’ Semula gagasan tidak ada, jadi ada,” kata Eko pada kumparanBOLA, Selasa (29/1/2019).

Baca Juga : Masih Peduli, Luis Milla Tanyakan Kabar Pemain-pemain Indonesia

Masih Peduli, Luis Milla Tanyakan Kabar Pemain-pemain Indonesia

“Kita salahin PSSI-nya. Bagaimana dapat satu agenda nasional, yang direncanakan jauh-jauh hari, dilibas atau ditaklukkan oleh perihal semacam itu. Faktanya sponsor dan lain-lain,” tuturnya.

Walau demikian, Eko menampik bila Piala Presiden punya potensi dimasuki penyusunan score. Masalahnya sepak terjang Unit Pekerjaan (Satgas) Antimafia Bola sudah membuat keadaan sepak bola nasional dikit beralih.

“Lihat prinsip dari Kapolri, itu telah saya jamin, orang yang yang biasa demikian (aktor penyusunan score) tiarap. Sebab beberapa orang biasa bermain tidak mungkin main kembali,” sambungnya.

Mengulas Piala Presiden pasti tidak terlepas dari tema waktu persiapan klub-klub mendekati liga bergulir. Masalahnya basic tunamen itu memang menjadi pemasanan, tiada tujuan merengkuh trofi atau menguber keberhasilan. Sudah sempat terpancar dari sikap beberapa club untuk turunkan lapis ke-2.

Akan tetapi, waktu kompetisi masuk babak gugur, banyak club yang merubah sikapnya. Mereka mulai mengincar kejayaan dengan turunkan scuad penting. Eks pelatih PSM Makassar, Robert Rene Alberts, dengan ekplisit mengatakan jika Piala Presiden sudah tidak berhasil menjadi arena pramusim.

Tidak bijak pun jika langsung menghakimi klub-klub yang memantik pergeseran inti Piala Presiden. Sebab arena pramusim untuk club Liga 1 itu memang menyodorkan deretan keuntungan yang mengundang selera. Buat pemain, contohnya, Piala Presiden adalah tempat terunggul untuk mengintegrasikan diri dengan team saat kegiatan di bursa transfer.

Sesaat geliat hadiah dengan nominal besar jadi daya tarik buat club untuk berlaku profesional serta mengutamakan kompetisi untuk memperoleh uang. Ditambah lagi, proses pembayarannya termasuk lancar. Club tidak sempat mencak-mencak terlebih dulu untuk menagih hak mereka. Semua langsung masuk ke rekening club.

“Saya pikir semua club suka dengan hadirnya Piala Presiden. Ditambah lagi jika subsidi lancar. Makin banyak kompetisi, mereka makin baik. Turnamen-turnamen sebelum liga ini juga bisa untuk pembinaan mereka. Mereka dapat turunkan pemain muda. Klub-klub dapat juga mempersiapkan team dengan baik sebelum bersaing di liga,” kata CEO PSIS Semarang, Yoyok Sukawi.